Artikel

Artikel Ponpes Modern Darel Azhar

Artikel edukatif dan inspiratif untuk santri dan masyarakat.

← Kembali ke Berita

Dimensi dalam Koleksi Mimpi Indah (Refleksi atas pertemuan ruhani dengan KH Imam Zarkasyi dan Putranya KH. Abdullah Syukri Zarkasyi).

Diposting: 10 Maret 2026 • Admin

Dimensi dalam Koleksi Mimpi Indah (Refleksi atas pertemuan ruhani dengan KH Imam Zarkasyi dan Putranya KH. Abdullah Syukri Zarkasyi).
Mukadimah Pesantren dibangun oleh cita-cita, dipelihara oleh disiplin, dan diwariskan melalui sanad perjuangan dan keilmuan. Dalam perjalanan khidmah, ada kalanya Allah mengingatkan bukan lewat suara keras, melainkan lewat simbol yang lembut yaitu: mimpi. Dalam Islam, mimpi baik adalah kabar gembira, namun bukan wahyu. Ia tidak menetapkan hukum dan tidak mengikat orang lain. Ia hanya menyentuh hati yang sedang bergulat dengan amanah transendental. Tulisan ini bukan untuk mengagungkan mimpi, tetapi untuk menangkap esensi yang tersirat - pesan ruhani di baliknya. Empat Mimpi Indah : 1. Jiwa yang Tetap Muda Dalam sebuah mimpi, di awal tahun 2000 an. Ketika mulai merintis ponpes Darel Azhar. Almarhum KH. Imam Zarkasyi tampil dalam usia sekitar 25 tahunan. Berjas hitam dengan baju putih yang kerahnya dikeluarkan , rambut ikal mayang - agak panjang sebahu . Sedang menyiapkan barisan santri muda. Saya hanya melihat dan memperhatikan dari samping. Mengapa muda? Mungkin karena pesantren rintisan membutuhkan jiwa muda: berani, energik, dan tidak cepat lelah. Kepemimpinan bukan soal usia, tetapi tentang semangat yang terus berkobar. Melihat dari samping seakan menegaskan: murid tetap murid. Kita hanya meneruskan barisan, bukan mengganti ruh perjuangan. 2. “Ikhwan, Iqra’…” Tahun 2005, ketika muncul niat untuk mengundurkan diri dari amanah musyrif ‘am amaliyah tadris kelas 6 di ppm Darel Azhar. Karena lima guru senior, sarjana S1 dari Gontor hadir turut khidmah . Hadir mimpi yang ke dua: beliau mendekat dan berkata, “Ikhwan, iqra’.” Saya membuka kertas yang di depan meja saya -ternyata kertas itu masih kosong. Kertas kosong bukan berarti hampa. Ia adalah lembar amanah yang belum selesai ditulis. Iqra’ bukan hanya membaca teks, tetapi membaca kebutuhan kaderisasi, membaca tanggung jawab, membaca misi yang belum tuntas. Seakan ada pesan halus: jangan meninggalkan ngajar di kelas sebelum perjuangan selesai. 3. Absen yang Menggetarkan Saat mudik 1446 H / 2025, karena padatnya agenda keluarga, belum sempat ziarah ke makam Trimurti di Satelit Gontor. Menjelang kembali ke Banten, hadir mimpi ke tiga: beliau sedang mengabsen santri di depan kediamannya. Saya datang terlambat, berlari kecil, dan berseru, “Hadir ustad !” Absen adalah evaluasi. Datang terlambat adalah kesadaran. Barangkali ini bukan sekadar tentang ziarah, tetapi tentang kesetiaan pada sanad orang tua idelogis. Ziarah bukan ritual formal, melainkan menjaga hubungan batin dengan nilai perjuangan dari sang kiai. 4. “Madza Tahmil Fiddurji?” Mimpi ke empat - bertemu putra KH. Imam Zarkasyi yaitu almarhum KH. Abdullah Syukri Zarkasyi. Dalam suasana Liqo’ Kemisan, saya duduk di barisan depan sebelah kiri. Beliau mendekat dan bertanya: " Madza tahmil fiddurji?"- “Apa yang kau bawa di laci?”. Saya mengeluarkan buku putih agak tebal: "Sirah Nabawiyah ustadz" jawab saya lirih. Beliau berkata lagi: “Tulis ,buatkan resume dua halaman dan serahkan ke saya.” Laci adalah simbol potensi. Sirah adalah sumber keteladanan. Perintah menulis adalah tuntutan aktualisasi untuk berkarya. Ilmu tidak cukup disimpan. Ia harus ditulis, diringkas, dan dihidupkan dalam amal dan karya nyata. "Uktub au yuktab". Menulislah engkau, atau kau layak ditulis oleh sejarah. Ihtitam Sanad yang Tidak Terputus. Para ulama mengingatkan bahwa pengalaman ruhani bersifat personal - sirroh qolbiyya dan harus selalu selaras dengan syariat. Maka mimpi-mimpi ini bukan dalil, bukan wahyu, bukan legitimasi. Ia hanya cermin batin. Yang penting bukan hanya sekedar kita bermimpi bertemu guru. Tetapi, apakah kita tetap hadir dalam barisan perjuangannya?. Sebagaimana motto Trimurti yang terus menggema: > “Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas, dan Berpikiran Bebas.” Empat kalimat itu bukan sekadar slogan, tetapi petunjuk kepemimpinan. Jika mimpi membuat kita lebih berbudi tinggi, lebih disiplin, lebih luas wawasan, dan lebih dewasa dalam berpikir—maka ia adalah nikmat. Jika tidak, maka ia hanyalah bunga tidur. Pesantren tidak dibangun oleh mimpi, tetapi oleh kerja nyata, doa yang panjang, dan istiqamah dalam barisan. Berfikir cerdas, bekerja keras dan beramal ikhlas. Namun kadang mimpi menjadi pengingat: jangan lelah memimpin dengan jiwa muda, jangan berhenti menulis amanah di atas kertas yang bermakna, dan jangan pernah absen dari sanad perjuangan. Karena pada akhirnya, yang akan diabsen bukan hanya nama kita— melainkan sejauh mana kita setia menjaga warisan nilai ma'hadiyah Gontoriyah . DA. 21 Februari 2026

Kontak

📍 Rangkasbitung, Lebak – Banten

📧 darelazharsekretaris@gmail.com

📞 0851-9911-1065

Lokasi